Seakan tak
pernah lelah menjemput rezeki, apapun yang dilakukan dapat memanen hasil, akan
diserahkan pada istri dan anaknya. Tak hanya istri dan anaknya yang menikmati,
para pekerja pembantu di tempat ia mengais rezeki pun mendapat jatah, walaupun
tak seberapa upah yang diberikan pimpinannya.
Sebelum matahari menampakkan sinarnya, Ayahku sudah
bersiap menerobos hari yang pastinya akan melelahkan. Dengan mata yang masih
berat dan rasanya ingin kembali merebahkan badan yang masih tersisa lelah
kemarin, ia lawan dengan iming-iming motivasi mewujudkan mimpi istri dan
anak-anaknya.
Tak peduli orang lain berkata apa tentang Ayahku
yang selalu pulang larut malam, asalkan ia lakukan di tempat mengais rezeki
halal untuk diberikan pada istri dan anaknya. Terkadang mataku tak dapat
ditahan untuk menunggu melihat wajahnya sebentar, karena terlalu gelapnya
Ayahku tiba di rumah.
Sebelum tiba di rumah, sempat-sempatnya Ayahku
menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Biasanya jika aku mengatakan
bahwa aku belum makan, Ayahku menepikan sepeda motornya di sebuah warung
pinggir jalan.
Sambil mengisi perut yang kosong, Ayahku bercerita
tentang apa yang terjadi hari itu. Tak kusangka, ia rela mengeluarkan emosi
bahkan melepas pakaian dinasnya demi membela pimpinannya yang diejek oleh seseorang
yang tidak terima dengan pelayanan dari kantor Ayahku.
Dalam hati bertanya-tanya, apakah Ayahku baik-baik
saja saat itu terjadi? Lalu lanjutnya ia berkata kepadaku, “Tadi habis
kejadian, Ayah di panggil pimpinan.” Sontak aku berhenti mengunyah lalu
langsung mengajukan pertanyaan, “terus bagaimana?” tanyaku penuh dengan
penasaran. Dan Ayahku menjawab dengan santai sambil menikmati nasi goreng yang
masih dikepuli asap, kalau ia tidak apa-apa. Aku bersyukur.
Kagum dengan apa yang dilakukan Ayahku, ia rela
berangkat dengan udara dinginnya pagi dan pulang dengan mata yang harusnya
sudah istirahat. Demi keluarganya ia rela menjalankan itu semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar