Kamis, 22 September 2016

Seandainya Menjadi Pemilik Media

source: christy-media.com

Setiap orang pasti mempunyai mimpi. Adakalanya seseorang harus terhenti untuk mimpinya, adapula yang dapat meraih mimpinya. Tetapi tidak salah, jika seseorang ingin bermimpi menjadi pendiri stasiun TV nasional di Indonesia. Terinspirasi dari salah satu pendiri PT. Net Mediatama, ialah Wishnutama, yang dapat menciptakan stasiun televisi sendiri setelah menjadi karyawan stasiun TV di luar negeri dan dalam negeri.

Dalam tulisan ini, bukan hanya untuk membangga-banggakan salah satu pendiri stasiun TV nasional ini, melainkan usaha yang dilakukan sebelum ia menjadi pemimpin perusahaan di NET TV. Karier Wishnutama dimulai sebagai Production Assistant di New England Cable News Amerika Serikat dan menjadi Assistant Director On Air Promotion di WHDH TV, Boston[1].

Ia pulang ke Indonesia pada tahun 1994 dan bekerja di Indosiar sebagai Supervisor On Air Promotion, kemudian pada tahun 2001 ia pindah ke Trans TV sebagai Kepala Divisi Produksi. Pada saat pengambilan saham mayoritas TV7 oleh kelompok usaha Para Group pada tahun 2006, kemudian berganti nama menjadi Trans 7[2].

Dari karier perjalanan seorang Wishnutama kita mendapat pelajaran bahwa kita tidak boleh takut untuk memulai. Walaupun sebagai pemula kita harus buang jauh-jauh pikiran negatif, yang nantinya perushaan stasiun TV kita putus di tengah jalan atau tidak berhasil. Karena kita dapat mencontoh Wishnutama yang sebelum menjadi pimpinan perusahaan ia hanya menjadi karyawan biasa.

Seandainya jika mendapat kesempatan untuk menjadi pemimpin perusahaan stasiun TV, kesempatan ini dimanfaatkan sebaik mungkin. Berusaha menjaga citra TV dan berupaya menaikkan lagi citra TV. Karena yang lebih diutamakan adalah khalayak. Maka dari itu, sebisa mungkin program yang ditampilkan dapat mengedukasi, menginformasi, menjadi kontrol sosial bagi masyarakat, dan tentunya menghibur.


[1] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Wishnutama
[2] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Wishnutama

Rabu, 21 September 2016

Pergi di Tengah Dinginnya Pagi


Seakan tak pernah lelah menjemput rezeki, apapun yang dilakukan dapat memanen hasil, akan diserahkan pada istri dan anaknya. Tak hanya istri dan anaknya yang menikmati, para pekerja pembantu di tempat ia mengais rezeki pun mendapat jatah, walaupun tak seberapa upah yang diberikan pimpinannya.

Sebelum matahari menampakkan sinarnya, Ayahku sudah bersiap menerobos hari yang pastinya akan melelahkan. Dengan mata yang masih berat dan rasanya ingin kembali merebahkan badan yang masih tersisa lelah kemarin, ia lawan dengan iming-iming motivasi mewujudkan mimpi istri dan anak-anaknya.

Tak peduli orang lain berkata apa tentang Ayahku yang selalu pulang larut malam, asalkan ia lakukan di tempat mengais rezeki halal untuk diberikan pada istri dan anaknya. Terkadang mataku tak dapat ditahan untuk menunggu melihat wajahnya sebentar, karena terlalu gelapnya Ayahku tiba di rumah.

Sebelum tiba di rumah, sempat-sempatnya Ayahku menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Biasanya jika aku mengatakan bahwa aku belum makan, Ayahku menepikan sepeda motornya di sebuah warung pinggir jalan. 

Sambil mengisi perut yang kosong, Ayahku bercerita tentang apa yang terjadi hari itu. Tak kusangka, ia rela mengeluarkan emosi bahkan melepas pakaian dinasnya demi membela pimpinannya yang diejek oleh seseorang yang tidak terima dengan pelayanan dari kantor Ayahku.

Dalam hati bertanya-tanya, apakah Ayahku baik-baik saja saat itu terjadi? Lalu lanjutnya ia berkata kepadaku, “Tadi habis kejadian, Ayah di panggil pimpinan.” Sontak aku berhenti mengunyah lalu langsung mengajukan pertanyaan, “terus bagaimana?” tanyaku penuh dengan penasaran. Dan Ayahku menjawab dengan santai sambil menikmati nasi goreng yang masih dikepuli asap, kalau ia tidak apa-apa. Aku bersyukur.

Kagum dengan apa yang dilakukan Ayahku, ia rela berangkat dengan udara dinginnya pagi dan pulang dengan mata yang harusnya sudah istirahat. Demi keluarganya ia rela menjalankan itu semua.